“Orang gila, Orang gila.”
Segerombolan anak kecil meneriakiku dengan kata itu. Orang gila yang benar saja? Apa mereka tak tahu bahwa sesungguhnya aku adalah calon artis terkenal yang bisa membanggakan desa mereka. Aku memutuskan keluar untuk lebih serius berlatih peran secara alami. Hanya itu saja.
“Orang gila, orang gila.”
Apa-apaan ini. Aku sudah tidak tahan dengan ucapan mereka. Aku sudah berada di puncak kemarahanku dan tinggal meletupkannya ke arah mereka, ke arah anak-anak kurang hajar itu.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 April 2012
Selasa, 03 April 2012
Cerpenis Gadungan
Kubanting bolpoint-ku di atas kasur. Huh, susah bener sih nulis cerpen apalagi kalau aku disuruh nulis novel. Bisa mampus aku. Yang pasti impossible. Mana mungkin aku bisa nulis, aku kan gak ada bakat sama sekali. Kayaknya dulu mba Ira waktu SMA gak pernah ada tugas kayak ini, tapi kenapa sekarang harus ada tugas begitu-an. Mana besok pagi sebelum bel tanda masuk, tugas itu harus sudah ngumpul di meja Pak wira. Aku terus saja mengutuki guru itu. Emangnya setiap anak punya kemapuan dan bakat sama. Enggak kan? So, kenapa aku harus repot-repot nulis.
Tiba-tiba kilatan ide gila masuk dalam otakku. Well, kalau sampai nanti malam aku bener-bener gak dapat ilham, aku bakal nyalin cerpen dari salah satu majalah teens-ku yang edisi lumayan sudah kolot. Good. Pasti gak ada yang bakalan tahu. Aku merasa seneng banget. Ternyata permasalahan ini bener-bener bisa diselesaikan secara simple. Toh, bukan salahku kalau aku melakukan hal ini. Suer deh, aku gak bermaksud begitu. Well, aku melakukan ini dengan terpaksa. Gak mungkin seorang Sesti, anak paling TOP terutama kalau pelajaran bahasa Indonesia gak bisa nulis cerpen. Bisa jatuh reputasiku.
Tiba-tiba kilatan ide gila masuk dalam otakku. Well, kalau sampai nanti malam aku bener-bener gak dapat ilham, aku bakal nyalin cerpen dari salah satu majalah teens-ku yang edisi lumayan sudah kolot. Good. Pasti gak ada yang bakalan tahu. Aku merasa seneng banget. Ternyata permasalahan ini bener-bener bisa diselesaikan secara simple. Toh, bukan salahku kalau aku melakukan hal ini. Suer deh, aku gak bermaksud begitu. Well, aku melakukan ini dengan terpaksa. Gak mungkin seorang Sesti, anak paling TOP terutama kalau pelajaran bahasa Indonesia gak bisa nulis cerpen. Bisa jatuh reputasiku.
Selasa, 06 September 2011
Cerpen Buat Ayah
Aku mulai menyesap kembali rokokku yang terakhir. Aku hampir menghabiskan dua pak rokok malam ini. Sungguh nikmat ketika menyesapnya dan menghembuskan kembali ke udara dalam bentuk bulatan-bulatan kecil. Ya, aku suka sekali melepaskan segala kepenatan yang melanda hari-hariku yang membosankan dengan menyesap rokok. Pikiranku kembali melayang seperti hari-hari sebelumnya mengikuti hempasan rokok dan ambyar ketika bulatan kecil itu menjadi hilang.
Kupandangi anak-anakku satu-persatu yang sudah mulai tumbuh menjadi dewasa. Yang pertama sudah hampir menyelesaikan SMA-nya dan sebentar lagi akan melanjutkan entah kemana. Namun, dia sendiri bingung apalagi aku seorang yang sudah tua. Sebenarnya, ingin sekali aku bisa membantunya memilih pendidikan apa yang pas untuk menyambung hidupnya kelak. Tapi, apakah yang terbaik menurutku apakah yang terbaik buatnya kelak.
Kupandangi anak-anakku satu-persatu yang sudah mulai tumbuh menjadi dewasa. Yang pertama sudah hampir menyelesaikan SMA-nya dan sebentar lagi akan melanjutkan entah kemana. Namun, dia sendiri bingung apalagi aku seorang yang sudah tua. Sebenarnya, ingin sekali aku bisa membantunya memilih pendidikan apa yang pas untuk menyambung hidupnya kelak. Tapi, apakah yang terbaik menurutku apakah yang terbaik buatnya kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)