Selasa, 03 April 2012

Cerpenis Gadungan

Kubanting bolpoint-ku di atas kasur. Huh, susah bener sih nulis cerpen apalagi kalau aku disuruh nulis novel. Bisa mampus aku. Yang pasti impossible. Mana mungkin aku bisa nulis, aku kan gak ada bakat sama sekali. Kayaknya dulu mba Ira waktu SMA gak pernah ada tugas kayak ini, tapi kenapa sekarang harus ada tugas begitu-an. Mana besok pagi sebelum bel tanda masuk, tugas itu harus sudah ngumpul di meja Pak wira. Aku terus saja mengutuki guru itu. Emangnya setiap anak punya kemapuan dan bakat sama. Enggak kan? So, kenapa aku harus repot-repot nulis.

Tiba-tiba kilatan ide gila masuk dalam otakku. Well, kalau sampai nanti malam aku bener-bener gak dapat ilham, aku bakal nyalin cerpen dari salah satu majalah teens-ku yang edisi lumayan sudah kolot. Good. Pasti gak ada yang bakalan tahu. Aku merasa seneng banget. Ternyata permasalahan ini bener-bener bisa diselesaikan secara simple. Toh, bukan salahku kalau aku melakukan hal ini. Suer deh, aku gak bermaksud begitu. Well, aku melakukan ini dengan terpaksa. Gak mungkin seorang Sesti, anak paling TOP terutama kalau pelajaran bahasa Indonesia gak bisa nulis cerpen. Bisa jatuh reputasiku.


Aku merasa harus merayakan ide gila ini. Aku menyalakan komputer dan mulai asyik memainkan permainan Spider Solitaire, mungkin kedengaran aneh, tapi begitulah caraku merayakan segala sesuatu. Kau tahu kan betapa mengasyikkannya permainan itu. Permainan kartu itu benar-benar menggairahkan, dan seolah merupakan energi ekstra buatku. Aku akui ini lebih baik. Bukankah candu game lebih baik daripada candu narkoba. Papa sering memarahiku karena penyakit ini belum sembuh juga. Well, karena setiap aku menghidupkan komputer pastilah permainan itu yang kutuju pertama kali.

“Sesti, mau jadi apa kamu, bandar judi, hah?”

Namun. Aku tetap saja bebal. Tak pernah sedikitpun terlintas di benakku, aku bakal menjalani karirku di masa depan sebagai bandar judi dan semacamnya, apalagi memikirkannya secara serius. Yang bener saja?

“Apa papa mau aku jadi bandar judi? Well, kalau itu mau papa, aku akan coba memikirkannya dengan serius apakah itu akan membuatku kaya di masa depan.” Kataku waktu papa mulai menginterogasiku malam itu. Memangnya papa tidak akan kecewa jika aku benar-benar jadi bandar judi.

Waktu perayaan telah habis. Well, akan lebih baik buatku untuk menyelesaikan tugas itu sekarang.
Bukankah lebih cepat lebih baik. Aku melangkahkan kaki menuju gudang. Rasanya benar-benar membuatku ingin muntah, mencium aroma udara ruangan yang luar biasa apeknya karena sudah lama tidak dibuka. Aku memakai slayer yang tadi kuambil dari kamar mba Ira. Dengan begini, penyakit bersin-bersinku gak bakalan kambuh. Semoga.

Aku membuka satu-persatu majalah yang ada. Mencoba memilah-milih cerpen yang paling standar yang ada. Well, kataku. Mungkin ini bagus, gak kelihatan buatan orang yang profesional, tapi cukup membuatku mendapat pujian dari pak Wira.

Aku menyalin cerita itu dalam kertas folio. Banyak juga, batinku. Empat halaman folio. Cukup membuat tanganku sedikit kram. Ok. Dengan begini tak ada yang bakal menyangka aku tak dapat menulis cerita. Well. Aku memasukkan tugasku itu dalam tas. Mungkin lebih baik, aku meneruskan membaca novel karya Meg Cabot-Pahlawan Amerika, All-American Girl. You know, meskipun aku bukan orang Amerika tapi aku begitu menyukai mereka, dan jika kau tanya pendapatku apa yang kusukai dari orang Amerika, well aku akan menjawab bahwa cara mereka beridealisme itu sangat keren, di sana semua orang bisa mengungkap ide apapun bahkan ketika kau orang miskin sekalipun.

Pagi ini, aku memutuskan berangkat lebih awal. Well, karena aku ingin melihat tugas sahabatku yang, you know jika kau jadi aku yang punya sahabat yang mempunyai IQ sama denganmu secara tidak langsung kau akan bersaing secara nilai bukan (setidaknya itu menurutku). So, aku ingin melihat hasil pekerjaannya. Sangat ingin bahkan.

“Hei, Anne, boleh lihat tugas cerpenmu?”

Anne menyodorkan bukunya ke arahku. Well, menurutku pekerjaannya lumayan baik, tapi pekerjaanku lebih baik. Ok. Aku ngaku pekerjaan hasil nyontekku memang lebih baik. Tapi, sekali lagi tak ada yang tahu kan?

“Hei”, celetuk Andy, ketua kelas kami “kumpulkan segera pekerjaan kalian”

“Okay, tapi jangan bentak-bentak dong!” protes Juliet.

Pekerjaan itu semuanya terkumpul di tangan Andy, kecuali pekerjaanku. Aku masih memegang erat kertas pekerjaanku seolah aku mendapatkan sesuatu yang berharga dan tak ingin memberikan benda itu pada siapapun.

“Hei, Sesti, kau mau mengumpulkan pekerjaanmu atau tidak?”

“Well, okay. Nih tugasku, thanks!”

“Ok class, ini udah semua kan?”

“Ya” suara koor kelas menggelegar.

Jujur saja jam pelajaran olahraga kali ini tak terlalu menyenangkan, ya itu karena aku gak terlalu minat latihan basket untuk sekarang dan sampai kapanpun. Kau tahu kan, mana ada anak yang suka dan memasukkanmu dalam tim kalau kau tak bisa memasukkan bola ke dalam ring basket. Well, karena kau hanya diberi kaki pendek yang gemuk dan jauh dari sempurna, seperti yang dimiliki Britney Spears ataupun Christina Aguilera.
“Ok class, silahkan menuruskan pelajaran selanjutnya, dan kelas saya cukup sampai di sini.” Ucap pak Gusti, guru olahraga kami. Fiuuuh. Akhirnya selesai juga. Aku terus saja mengelap keningku yang sebenarnya tak terlalu basah oleh keringat.

“Okay, tadi saya sudah membaca tugas kalian, ya meskipun hanya sekilas saja.” ucapan pak Wira di depan kelas “dan sebenarnya tugas ini saya berikan kepada kalian untuk mengukur kemampuan menulis kalian karena saya akan mengikutsertakan tiga cerpen terbaik dalam lomba cerpen tingkat kota”

Terdengar tepukan dalam kelas. Semua tampak bersemangat ya kecuali aku. Tadinya aku kira ini hanya tugas sekolah biasa tapi tampaknya aku dalam masalah besar.

“Okay, setiap kelas akan dipilih wakilnya yang kemudian akan dipilih lagi mana yang paling bagus diantara murid kelas sebelas.” Untuk sementara Pak Wira menghentikan bicaranya. “Okay, saya sudah memilih dari kelas ini tapi saya juga minta persetujuan dari setiap anggota kelas dengan cara voting, karena itu saya minta satu persatu anak maju untuk membacakan cerita masing-masing.”

Satu persatu anak maju. Dan setiap anak maju selalu saja dikomentari oleh kelas. Tanganku mulai berkeringat dingin dan aku juga merasakan bahwa wajahku pucat. Bagaimana tidak, kau menyotek hasil karya orang lain dan menganggapnya sebagai hasil karyamu.

“Prasesti Aswadana”. Damn. This is my turn. Aku berdiri dan melangkahkan kakiku. Agak gemetar memang, tapi kurasa tak ada yang tahu. Aku mulai membacakan pekerjaanku, dan seluruh kelas tampaknya menjadi terbengong-bengong. Aku tak tahu kenapa tapi aku merasakan ketakutan yang luar biasa.

Terdengar applaus dari setiap sudut. Kau tahu mereka memujiku. Mereka memuji hasil contekanku. Dan sekarang aku benar-benar merasakan ketakutanku memuncak, hanya ada satu yang aku inginkan bahwa ada teman lain yang mendapatkan applaus sekeras applaus buatku tadi.

“Okay, tadi kita sudah mendengar cerita dari kalian masing-masing, dan saya meminta menurut kalian siapa yang pantas untuk menjadi wakli kelas kita untuk diseleksi kembali di tingkat sekolah?”

Otot kakiku benar-benar lemas kini, dan kau bakal merasakan hal yang sama ketika kau diposisiku. Betapa tidak, kau menjiplak hasil karya orang lain dan kau terpilih sebagai wakil kelas dalam lomba menulis cerpen. Damn. Aku harus gimana. Aku merasakan kecemasan semakin merundungi diri dan berharap kau bukan masuk tiga besar yang bisa mewakili sekolah, kalau tidak kau benar-benar dalam masalah besar. Sangat besar bahkan.

Setiap anak di kelas memandang takjub pada diriku. Mereka bertanya dengan serentetan pertanyaan yang nyaris membuatku muntah.

“Bagaimana caranya menulis cerpen sebagus punyamu? Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk mendapatkan ilham? Apakah kau tak ingin menjadi terkenal dengan tulisanmu itu, maksudku apakah kau tak pernah bermaksud mengirim hasil karyamu itu?”

“Well, sorry banget, aku tak tahu harus menjawab apa, tapi yang pasti kepalaku pusing berat dan aku mau segera pulang. Sorry banget!” Aku mengambil tasku dan langsung memutuskan cabut tanpa berpamitan pada Anne. Aku berjalan setengah berlari dan kalau aku memikirkan kejadian tadi rasanya kepalaku hampir meledak.

Aku tak tahu harus melakukan apa, tapi yang pasti aku tak bisa mengikuti lomba menulis cerpen dengan karya orang lain, karena jelas aku telah melanggar hak cipta orang lain. Devil yang ada di tubuhku terus saja mendorong niatku untuk tetap memakai cerpen itu. Namun, angle tetap saja menghalangi niat itu, dan aku melakukan persetujuan dengan angle, dan bersikap tak peduli pada devil dan melambai dengan memunggungginya. Sopan, jelas tidak kalau itu kau lakukan pada orang dan angle, tapi kalau buat devil, tentu saja sangat dianjurkan, kalau tidak, kau akan melihatnya mengiba-iba padamu untuk meminta belas kasihan.

Pertama yang harus kau lakukan adalah, angle mulai memberiku petunjuk, carilah data dari internet ataupun buku bagaimana cara menulis cerpen yang baik. Carilah data seakurat mungkin, baca dan pahami.
Well, kalau begitu lebih baik kumulai dengan search engine. Aku mulai menyalakan komputermu dan menyambungkannya dengan layanan internet. Simple kan? Hemm, great, aku menuliskan MENJADI CERPENIS dengan huruf kapital, ya, walau aku tahu ini sama sekali tak ada pengaruhnya kau menggunakan huruf kapital atau tidak. Berulang kali aku mengubah keyword-nya. Tetap saja aku merasa kurang puas, ya karena penjelasan mereka kurang detail. So, aku memutuskan besok sepulang sekolah aku akan mampir di toko buku dekat sekolah dan mencari apa yang aku butuhkan.

Hemm, kelihatannya menarik. Aku mengambil salah satu buku pedoman. Mungkin lebih baik aku membeli buku referensi kumpulan cerpen remaja. Mungkin ini akan lebih baik. Aku mengambil beberapa buku kumpulan cerpen. Well, aku tahu aku harus membawa bekal selama seminggu ini karena uang jatahku seminggu habis untuk membeli buku dan hanya cukup untuk transport pulang-pergi ke sekolah.

Okay, ouw, hemm. aku mulai membaca buku yang aku beli. Hanya ada ekspresi-ekspresi yang menandakan bahwa menulis tidak mudah dan tidak sukar. Hal yang bisa aku simpulkan adalah pertama menulislah apa yang kau bisa, bukan apa yang kau mau. Kedua, jangan pernah berhenti menulis. Ya, ada atau tidaknya ide, kau harus tetap menulis. Ketiga, dan sekaligus yang paling aku sukai, bacalah referensi, karena dengan begitu akan meningkatkan kemapuan katamu. Keempat, minta komentar sebanyak mungkin bahkan kalau bisa dari musuh bebuyutanmu sekalipun. Karena mereka itu berkata jujur tanpa berusaha menghibur. Hanya itu, that’s all. Damn. Aku beli buku mahal-mahal dan aku hanya bisa menyimpulkan empat poin di atas.

Well, aku mulai memikirkan tema. Apa yang aku bisa berarti sesuatu yang kau ketahui. Teens. Pastilah sangat menarik. Okay, what abaout the character and characterization? Bukankah lebih baik aku buat garis besar tokohnya. Hemm, aku mulai menggumam sendiri. Dunia remaja identik dengan cinta, sangat dekat, tapi karena ini untuk mewakili sekolah haruslah yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan menitikberatkan pada sekolah.

Aku mulai membuat daftar pemeran dan sifatnya. Karakter utama : Smart boy, yang mempunyai pacar yang sangat cantik tapi kurang pandai, dan sang pria mengajari pacarnya hingga ia menjadi pintar. Aku terus saja mengotak-atik ide cerita tersebut. Sederhana tapi bagaimana cara membuat greget dalam cerita itu. Bingung. Aku memutuskan tidur sambil terus berharap keajaiban akan datang. Dan kau tahu itu apa kan?

“Ses, dipanggil pak Wira” pekik Andy sang ketua kelas “tampaknya kau terpilih mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen itu.”

“Anne, kau tahu apa yang aku harapkan?” dia menggeleng tapi kemudian menjawab.

“Kau pasti menginginkan ini, kau terpilih ya kan?”

Aku diam, tapi tak mampu berkata apa-apa lagi. Yang pasti aku bakal sangat senang kalau aku tidak terpilih mewakili sekolah. Tapi apa yang aku dengar justru berbalik dengan impianku. Aku terpilih atas sekali lagi hasil contekkanku. Namun, tetap saja aku tak bisa menghindar. Well, kau disana bersama dua orang temanmu yang bakal mewakili sekolah. So, mau tak mau aku menerima keputusan itu.

“Pak, bolehkah saya mengganti cerpen itu dengan sesuatu yang lebih fresh?”

Ya, hanya kata itu yang sanggup kutanyakan. Aku benar-benar merasa bersalah kalau aku memakai cerpen itu. Aku merasa lega, karena pak Wira mengijinkanku.

Okay, aku mencoba menyemangati diri. Well, apapun itu aku tak boleh mengecewakan sekolah. Mereka memilihku meski aku tidak jujur. Well, aku mulai bergumam sendiri. Tapi, mencari ide cerita hampir membuatku konyol sama seperti ketika Pak Wira memberikan tugas itu minggu lalu. Tapi bedanya kali ini aku benar-benar merasa tolol. Kau tahu kenapa kan?

Pikiranku jauh lebih payah. Bahkan benar-benar payah. Aku harus memberikan ceritaku segera, ya karena date linenya adalah lusa. Aku benar-benar hampir benar-benar menemukan ide ketika mama berteriak dari meja makan. Dan, aku benar-benar tidak dapat mengingat satupun bahkan ide yang sempat melintas di benakku beberapa hari yang lalu menghilang kini. Kenapa aku lupa menulis garis besar cerita itu kemarin? Aku terus memaki diriku.

Arggghhhh. Aku gemas, ini ulah mama dan mama harus bertanggung jawab. Aku senang karena aku bisa minta ganti rugi. Aku berlari menuruni tangga. Dengan wajah jutek, aku minta pertanggungjawaban. Aku gak mau tahu pokoknya mama harus bantu.

“Bantu gimana?”

“Pokoknya mama harus kasih ide cerita.”

“Kok gitu?” mama terus menjawab tanpa merasa bersalah sekalipun.

“Karena mama udah menghilangkannya” aku menarik napas jengkel “mama yang membuat semuanya hilang”

Aku melihat mama dengan alis mengernyit sebelah.

“Well, mama tadi membuyarkan ideku, mama memanggilku, ingat?”

Mama tertawa terbahak-bahak. Aku tak habis pikir memang ada yang aneh. Aku cuma minta pertanggungjawaban atas semua ini, that’s all.

“Atau aku mau cerita tentang kehidupan mama, ya seorang mama yang selalu berteriak kepada anaknya?” nadaku mungkin terdengar sedikit mengancam tapi mama sudah kelewat batas.

“Ok, tapi apa menariknya cerita itu?”

“Pasti menarik, karena aku akan membuat judul...” aku diam tiba-tiba saja otakku ini memproses lagi setelah berhenti sepersekian detik “MAMAKU GURITAKU.”

“Well, maafkan mama, tapi tadi mama tak bermaksud seperti itu. Tapi kenapa tak kau coba menulis kisah mama waktu muda, betapa mama seperti putri angsa dan papa adalah pangeran kodok”

Papa yang dari tadi asyik membaca koran, ikut berkomentar. Dan alhasil, mereka bertengkar sendiri.
Hemm, boleh juga judulnya putri angsa dan pangeran kodok. Well, kayaknya boleh juga. Aku memutuskan makan secepat kilat dan kembali ke kamar untuk memelototi komputerku. Dan aku mulai mengetik yang rasanya seperti pikiran telah membimbingku. Sebaris dua baris. Hei, aku memekik sendiri senang. Aku sudah mendapatkan satu halaman. Aku terus saja menekan tombol-tombol di keybaordku. Aneh. Magic.

Rasanya tanganku benar-benar ringan. Aku tahu mungkin ini tak akan sebagus dengan cerita hasil contekanku tapi kelihatannya aku berhasil membuat tulisanku sendiri. Bisikan begitu kuat. Apapun yang terjadi besok pagi cerita ini harus selesai karena aku akan mendiskusikannya dengan Anne. Dan, aku akan memberi tahu kecuranganku.

Well, aku bisa mengerjakan sesuai ketentuan minimal 7 halaman A4, font 12, Times new Roman, spasi 1,5 pt. Great. Aku benar-benar bangga terhadap diriku sendiri. Aku mendengar bunyi kretek-kretek dari mesin printer-ku. Ya, seburuk apapun kau, tolong bertahanlah dan bantu aku. Aku tak tahu harus bagaimana kalau printer-ku kembali ngadat. Aku memohon seolah-olah printer adalah makhluk hidup.

Ouwh. Aku lega sekali. Aku memberi kecupan pada prnterku tanda sayang. Aku memasukkannya hati-hati sekali diantara buku matematikaku agar tidak rusak. Well, ini waktunya tidur. Night Sesti.

“Hei, ini lumayan juga”. Anne memang baik, dia tak menghardikku dan dia telah berjanji bakal menyembunyikan kecuranganku tempo hari. “Tapi, bolehkah aku bantu membuatnya jadi lebih baik?”

“Tentu saja” jawabku bersemangat.

“Well”, dia melanjutkan “kalau kau mau mendengar saranku cukup simple, kita ganti judul saja, maksudku putri kodok dan pangeran angsa, lucu kan?”

“Tapi kedengarannya aneh?”

“Justru itu, kau akan medapatkan nilai plusnya”

Aku diam. “Menurutmu begitu?” aku setengah merasa gundah apakah aku punya waktu untuk itu semua.

Hello, date linenya besok pagi, ingat?

“Itu tak mungkin Anne!”

“Kenapa? Karena date linenya besok?”

“Tenang saja semuanya pasti kita lalui, aku bantu kamu.”

Aku kini duduk dibelakang komputer dan berusaha mengikuti saran Anne. Ses, kau cukup menukarkan tokohnya, dan mengganti beberapa kata dengan kata yang lain. Anne, telah memilihkan beberapa kata yang cocok di atas tulisanku, dia juga membubuhkan beberapa kalimat. Aku berusaha menyalin itu ke dalam komputer. Aku membaca ulang siapa tahu ada salah ketik atau bagaimana. Aku tersenyum pada komputer dan printerku. Dan kini tulisanku menjadi lebih baik dan yang pasti lebih konyol. Bukankah sudah ketahuan dari judulnya?

“Anne, thanks ya! Semuanya berjalan baik dan semuanya berkat bantuanmu. Dan kau tahu betapa puas Pak Wira akan pekerjaanku. Dan ini aku juga mencetak untukmu”

“Hei, kau harus membubuhkan tanda tanganmu di sini”

“Kenapa?”

“Karena kalau kau menang kau akan terkenal, dan aku akan bilang aku telah mendpatkan tanda tanganmu secara ekslusif”

Kami tertawa bersama. Puas sekali aku mampu melewati ini semua bersama.

“Selamat pagi anak-anak!” panitia lomba juri berdiri di depan podium untuk mengumumkan hasilnya.

“Sekarang ini generasi kita benar-benar sudah maju pemikirannya, dan tentu saja tepuk tangan untuk kalian semua, karena kalian adalah yang terbaik dari yang baik. Namun, tidak semua anak bisa menang dalam kesempatan ini, meskipun begitu kalian tidak boleh menyerah karena kalian bisa menjadi cerpenis bahkan novelis terkenal kalau kalian mau melatih bakat kalian”

Terdengar tepukan antusias dari seluruh peserta. Dan kadang mereka menambah suara-suara supaya terdengar lebih meriah.

“Ok, sekarang saatnya saya mengumumkan juaranya.”
Terdengar begitu keras detak jantungku, seolah jantungku ini memakai microphone. Dan aku merasa semua orang juga merasakan hal yang sama.

“Well, pemenang juara ketiga adalah Monika Larasati”
Sesosok tubuh kecil dengan rambut dikucir kuda berjalan dari belakangku menuju podium untuk berbaris di sana.

“Pemenang kedua adalah Madestu Gozhali”
Aku melirik ke arah temanku, dia berhasil menjadi juara. Aku melihat seringainya malu-malu tapi pasti berjalan di depanku dan menuju podium.

“Okay sebelum menuju juara satu, kita akan mengumumkan juara harapan dulu”
Sekali lagi terdengar suara-suara dari peserta. Namun, kali ini terdengar suara huuuu yang cukup lama.

“Well, untuk juara harapan satu, Ryan Putrajasa.” Orang itu berdiam sejenak untuk memberikan kesempatan peserta memberikan applaus. “Juara harapan kedua, Paulina Esteralia” dia kembali diam. “Dan untuk juara harapan tiga, Prasesti Aswadana.”

Tubuhku bergetar hebat, aku berhasil masuk sebagai juara. Pak Wira menepuk pundakku dan menyalamiku persis yang ia lakukan untuk temanku Madestu Gozhali. Aku melangkahkan kaki dengan masih gemetar menuju podium. Aku bahkan tak terlalu memperhatikan siapa yang menjadi juara, karena aku terlalu sibuk bergemetar.

“Anne, kau tahu aku juara harapan tiga!” suaraku setengah berteriak saking senangnya begitu menelponnya.

“Aku tahu Ses, kau pasti bisa! Selamat ya!”

Aku masih begitu senang, dan ingin segera memeluk Anne untuk berterima kasih dan menraktirnya semangkok bakso dan segelas jus mangga kesukaannya.

“Anne!” teriakku tanpa memedulikan teman-temanku.

Kami berpelukan cukup lama, bahkan tak sadar aku menangis bahagia di pundaknya dan tak ingin melepasnya. Sangat bahagia.

“Kau ingin menraktirku bukan?” senyumnya menggodaku.

“ Ya.”

Aku menyeretnya ke kantin. Aku tak peduli kalau jam pertama aku harus bolos, karena aku benar-benar gembira.

“Well, mari kita bersulang, UNTUK SESTI”

cheers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar